Sebagai seorang guru,
aku sebenarnya sering malu dan minder. Rasa malu tiba-tiba muncul pada saat aku
mengevaluasi tindakan, perasaan, dan perilaku yang aku lakukan. Ketika aku
menyadari, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang keliru, kurang benar, dan
tidak sesuai. Rasa malu terkadang telah membuatku merasa begitu down. Kalau sudah muncul rasa malu, rasa
minder pun terasa seperti virus yang tanpa kita sadari tiba-tiba kita sudah
dihinggapinya. Memang, soal minder ini bisa dialami siapa saja, tidak pandang
anak-anak, remaja, atau dewasa. Tak peduli apakah dia murid ataupun guru. Tapi
bagaimana kalau yang menderita minder dan malu ini justru aku yang notabene
seorang guru? Bagaimana nasib murid-muridku kalau gurunya sendiri minder?
Parah. Mungkin itu
jawaban sebagian orang, dan itu sama sekali tidak salah. Ayo bayangkan, jika
guru mengajar di kelas dengan penuh rasa malu atau minder. Mungkin murid-murid
akan tertawa terbahak-bahak melihat sang guru berdiri gugup di depan kelas,
tangan gemetaran memegang whiteboard
marker, bicara dengan suara tertahan. Hahaha. Aku sendiri menertawakan
kebodohan itu. Jadi ingat dengan guruku waktu SMA Negeri 1 Muara Teweh. Di
kelasku yang terkenal ribut kedatangan seorang guru baru, seorang cewek, ngajar
Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Si ibu mencoba berkenalan, tapi
murid-murid tidak merespon. Benar-benar gaduh suasana. Karena tak mampu
mengelola kelas yang ribut, si ibu guru ini melirik jam yang melingkar di tangannya,
mungkin berharap jam PSPB akan segera berakhir. Tetapi tidak. Waktu masih lama.
Akhirnya ibu guru memilih duduk di kursi guru sambil berpura-pura mencari-cari
bahan di buku paket PSPB. Buku paketnya didirikan, supaya wajah si ibu guru
tidak nampak dari belakang. Yang namanya murid, tetap saja ada yang usil.
Beberapa murid tetap berusaha memperhatikan mimik ibu guru yang terlindung di
balik buku paket. Dan, ulala, ternyata ibunya sedang berlinang air mata.
Cerita yang dialami
temanku, juga cukup unik. Sebelum mengajar di MTsN 2 Gambut, aku juga pernah
menjadi guru honor di SMK Bina Banua Banjarmasin. Seorang guru honor baru,
mengajar Bahasa Inggris, juga kapok saat menghadapi murid yang nakal dan ribut.
Rasa percaya dirinya langsung hilang, berubah menjadi minder dan malu.
Olok-olokan bercanda dari murid serasa seperti pelayan yang sedang dihardik
majikannya. Mukanya merah seperti tomat.Si ibu ini pulang ke rumahnya yang
kebetulan tidak jauh dari sekolah. Apa yang dia lakukan di rumah? Ternyata dia
menangis sejadi-jadinya.
Lalu, apakah aku juga
seperti itu di hadapan anak muridku? Tentu saja tidak. Aku masih percaya dengan
kemampuan diri sendiri, selalu berpikir positif, bergaul dengan lingkungan
positif, optimis, mengerjakan sesuatu dengan suka cita, dan selalu bersyukur.
Tapi rasa percaya diri
itu tak akan tampak saat aku membaca novel Pahari karya Mahmud Jauhari Ali atau
novel Galuh Hati karya Randu. Aku juga malu setelah membaca buku Inspiring
Teacher karya Jamal T Suryanata. Apalagi status-status facebook yang mengatakan
akan coming soon buku-buku terbaru
karya anak banua. Malu, malu, malu rasanya.
Malu, karena aku tidak
bisa seperti mereka. Sudah setua ini masih belum bisa menulis, walaupun sekedar
di blog dimana aku sendiri yang menjadi pemimpin redaksinya.
Karena rasa malu
itulah, kumulai menulis tulisan ini. Semoga menginspirasiku untuk terus
berkarya.
(Catatan 18 April 2014)