Sabtu, 28 Februari 2015

Kamu Itu Sibuk, Malas, atau Nggak Bisa Sih?



Bagaimana perasaan Anda ketika punya teman yang sibuk dan banyak urusan? Seolah-olah hanya dia yang punya kesibukan dan tak bisa ditinggalkan? Lalu, apa-apa yang seharusnya dikerjakan sendiri, akhirnya dilimpahkan ke orang lain, dibungkus dengan kata-kata “tolong”, sementara dirinya sendiri tak pernah bisa memberikan “pertolongan” ke orang lain.

Jengkel. Pasti. Sebagai manusia biasa, kita pasti punya perasaan seperti itu. Berusaha untuk ikhlas, tapi tetap ada rasa tidak enak. Contohnya, pengerjaan Sasaran Kerja Pegawai (SKP), yang notabene adalah target masing-masing pegawai. Artinya, itu kontrak kerja yang harus dilakukan sendiri apa yang akan dilakukan seseorang PNS selama satu tahun. Tapi, kenapa harus dilimpahkan ke orang lain?

Mungkin tidak bisa menggunakan laptop atau computer. Itu alasan klasik, karena tidak pernah mau belajar. Karena kesibukan di luar lebih penting. Itulah manusia. Pada saat sertifikasi tidak atau lambat dicairkan, pasti akan sibuk “berkicau”. Tapi pada saat sering terlambat datang ke sekolah, tidak masuk, minta izin, cuek dengan segala peraturan yang mengikat sertifikasi, tidak pernah peduli. Menyatakan diri sebagai seorang yang memiliki kompetensi professional, tapi nonsense, kenyataannya tidak seperti itu.

Apakah aku juga seorang yang mempunyai sudah mempunyai sertifikat professional, lantas sudah menjadi seorang yang professional? Tidak. Aku juga masih jauh dari professional, dan masih harus banyak belajar. Tapi setidaknya, berusaha untuk terus belajar, meluangkan waktu untuk mempertanggungjawabkan sertifikat professional yang sudah dimiliki, dengan memenuhi segala hak dan kewajiban yang sudah menjadi tanggung jawab.

Membuka Blog Lama



Sebenarnya pekerjaan tulis-menulis bukanlah hal yang baru bagiku. Pekerjaan ini adalah hobbyku semenjak  masih duduk di bangku Sekolah Dasar.  Selain menulis, tentu saja aku sangat suka membaca. Hampir seluruh buku yang ada di perpustakaan SD sudah habis kubaca, dan kuhapal isinya. Separuh dari buku cerita yang ada di situ juga pindah ke rumahku, tanpa pernah kukembalikan. Karena sering membaca, muncul bakatku untuk menulis. Kebetulan, waktu SD, ayah punya mesin ketik. Jadilah, mesin ketik itu teman sejatiku semasa SD. Buku paket SD yang kupakai untuk belajar di sekolah, adalah hasil ketikanku sendiri. Pak Jahrani, guru kelasku sampai bertanya: “Ini ketikanmu sendiri, ya?”

Lulus SD, aku masuk Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Muara Teweh. Dan, aku dihadiahkan mesin ketik oleh ayahku yang waktu itu datang dari Banjarmasin. Sejak itulah, aku mulai menulis. Cerita humor, cerita mini, cerpen, atau apa saja yang bisa kutulis, pasti kutulis. Dan, betapa senangnya lagi bila naskah yang kutulis itu dimuat di majalah Ananda.

Lulus kuliah, aku langsung diterima sebagai PNS. Ditambah lagi dengan berbagai  kesibukan mengelola usaha rumah makan, sedikit demi sedikit bakat menulisku tergusur dari dalam otak. Kendati ide-ide terkadang menumpuk dan membuat pikiranku sampai “mumet”, tapi tetap juga ide itu hanya menjadi serangkaian kata-kata yang tersusun dalam otak tanpa pernah tertuangkan dalam tuts computer.

Tapi, selain kesibukanku dengan usaha rumah makan, aku semakin berkenalan dengan internet. Membaca tidak lagi focus pada sebuah buku di hadapanku, tetapi lebih sering browsing di internet. Mulailah aku belajar membuat blog. Tahun 2007 mulailah aku membuat blog pribadi.

Sore, 21 April 2014, iseng-iseng aku search di google dengan nama “Alipir Budiman”. Bermunculanlah blog-blog yang pernah aku buat. Aku tersenyum sendiri, dan mulai membuka blog itu satu persatu, membaca kisah-kisah lama, pengalaman pribadi, maupun artikel yang tidak pernah sempat terkirim di media massa. Ada beberapa blog yang pernah kubuat, yaitu :

Alipir2.wordpress.com
Aligambut.blogspot.com
Alipirbudiman.blogspot.com
Alipir.blogspot.com
Nasi-itik-gambut.blogspot.com
Seputarmtsn2gambut.blogspot.com
Ngajubarito.blogspot.com
Mtsn2gambut.blogspot.com

Beberapa tahun vakum, akhirnya aku akan mencoba lagi, menata lagi blog lama untuk kujadikan ajang menulis.

Catatan 21 April 2014.

Aku (Belajar) Menulis Lagi




Sebagai seorang guru, aku sebenarnya sering malu dan minder. Rasa malu tiba-tiba muncul pada saat aku mengevaluasi tindakan, perasaan, dan perilaku yang aku lakukan. Ketika aku menyadari, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang keliru, kurang benar, dan tidak sesuai. Rasa malu terkadang telah membuatku merasa begitu down. Kalau sudah muncul rasa malu, rasa minder pun terasa seperti virus yang tanpa kita sadari tiba-tiba kita sudah dihinggapinya. Memang, soal minder ini bisa dialami siapa saja, tidak pandang anak-anak, remaja, atau dewasa. Tak peduli apakah dia murid ataupun guru. Tapi bagaimana kalau yang menderita minder dan malu ini justru aku yang notabene seorang guru? Bagaimana nasib murid-muridku kalau gurunya sendiri minder?

Parah. Mungkin itu jawaban sebagian orang, dan itu sama sekali tidak salah. Ayo bayangkan, jika guru mengajar di kelas dengan penuh rasa malu atau minder. Mungkin murid-murid akan tertawa terbahak-bahak melihat sang guru berdiri gugup di depan kelas, tangan gemetaran memegang whiteboard marker, bicara dengan suara tertahan. Hahaha. Aku sendiri menertawakan kebodohan itu. Jadi ingat dengan guruku waktu SMA Negeri 1 Muara Teweh. Di kelasku yang terkenal ribut kedatangan seorang guru baru, seorang cewek, ngajar Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Si ibu mencoba berkenalan, tapi murid-murid tidak merespon. Benar-benar gaduh suasana. Karena tak mampu mengelola kelas yang ribut, si ibu guru ini melirik jam yang melingkar di tangannya, mungkin berharap jam PSPB akan segera berakhir. Tetapi tidak. Waktu masih lama. Akhirnya ibu guru memilih duduk di kursi guru sambil berpura-pura mencari-cari bahan di buku paket PSPB. Buku paketnya didirikan, supaya wajah si ibu guru tidak nampak dari belakang. Yang namanya murid, tetap saja ada yang usil. Beberapa murid tetap berusaha memperhatikan mimik ibu guru yang terlindung di balik buku paket. Dan, ulala, ternyata ibunya sedang berlinang air mata.

Cerita yang dialami temanku, juga cukup unik. Sebelum mengajar di MTsN 2 Gambut, aku juga pernah menjadi guru honor di SMK Bina Banua Banjarmasin. Seorang guru honor baru, mengajar Bahasa Inggris, juga kapok saat menghadapi murid yang nakal dan ribut. Rasa percaya dirinya langsung hilang, berubah menjadi minder dan malu. Olok-olokan bercanda dari murid serasa seperti pelayan yang sedang dihardik majikannya. Mukanya merah seperti tomat.Si ibu ini pulang ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari sekolah. Apa yang dia lakukan di rumah? Ternyata dia menangis sejadi-jadinya.

Lalu, apakah aku juga seperti itu di hadapan anak muridku? Tentu saja tidak. Aku masih percaya dengan kemampuan diri sendiri, selalu berpikir positif, bergaul dengan lingkungan positif, optimis, mengerjakan sesuatu dengan suka cita, dan selalu bersyukur.

Tapi rasa percaya diri itu tak akan tampak saat aku membaca novel Pahari karya Mahmud Jauhari Ali atau novel Galuh Hati karya Randu. Aku juga malu setelah membaca buku Inspiring Teacher karya Jamal T Suryanata. Apalagi status-status facebook yang mengatakan akan coming soon buku-buku terbaru karya anak banua. Malu, malu, malu rasanya.

Malu, karena aku tidak bisa seperti mereka. Sudah setua ini masih belum bisa menulis, walaupun sekedar di blog dimana aku sendiri yang menjadi pemimpin redaksinya.

Karena rasa malu itulah, kumulai menulis tulisan ini. Semoga menginspirasiku untuk terus berkarya.

(Catatan 18 April 2014)