Sabtu, 28 Februari 2015

Aku (Belajar) Menulis Lagi




Sebagai seorang guru, aku sebenarnya sering malu dan minder. Rasa malu tiba-tiba muncul pada saat aku mengevaluasi tindakan, perasaan, dan perilaku yang aku lakukan. Ketika aku menyadari, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang keliru, kurang benar, dan tidak sesuai. Rasa malu terkadang telah membuatku merasa begitu down. Kalau sudah muncul rasa malu, rasa minder pun terasa seperti virus yang tanpa kita sadari tiba-tiba kita sudah dihinggapinya. Memang, soal minder ini bisa dialami siapa saja, tidak pandang anak-anak, remaja, atau dewasa. Tak peduli apakah dia murid ataupun guru. Tapi bagaimana kalau yang menderita minder dan malu ini justru aku yang notabene seorang guru? Bagaimana nasib murid-muridku kalau gurunya sendiri minder?

Parah. Mungkin itu jawaban sebagian orang, dan itu sama sekali tidak salah. Ayo bayangkan, jika guru mengajar di kelas dengan penuh rasa malu atau minder. Mungkin murid-murid akan tertawa terbahak-bahak melihat sang guru berdiri gugup di depan kelas, tangan gemetaran memegang whiteboard marker, bicara dengan suara tertahan. Hahaha. Aku sendiri menertawakan kebodohan itu. Jadi ingat dengan guruku waktu SMA Negeri 1 Muara Teweh. Di kelasku yang terkenal ribut kedatangan seorang guru baru, seorang cewek, ngajar Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Si ibu mencoba berkenalan, tapi murid-murid tidak merespon. Benar-benar gaduh suasana. Karena tak mampu mengelola kelas yang ribut, si ibu guru ini melirik jam yang melingkar di tangannya, mungkin berharap jam PSPB akan segera berakhir. Tetapi tidak. Waktu masih lama. Akhirnya ibu guru memilih duduk di kursi guru sambil berpura-pura mencari-cari bahan di buku paket PSPB. Buku paketnya didirikan, supaya wajah si ibu guru tidak nampak dari belakang. Yang namanya murid, tetap saja ada yang usil. Beberapa murid tetap berusaha memperhatikan mimik ibu guru yang terlindung di balik buku paket. Dan, ulala, ternyata ibunya sedang berlinang air mata.

Cerita yang dialami temanku, juga cukup unik. Sebelum mengajar di MTsN 2 Gambut, aku juga pernah menjadi guru honor di SMK Bina Banua Banjarmasin. Seorang guru honor baru, mengajar Bahasa Inggris, juga kapok saat menghadapi murid yang nakal dan ribut. Rasa percaya dirinya langsung hilang, berubah menjadi minder dan malu. Olok-olokan bercanda dari murid serasa seperti pelayan yang sedang dihardik majikannya. Mukanya merah seperti tomat.Si ibu ini pulang ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari sekolah. Apa yang dia lakukan di rumah? Ternyata dia menangis sejadi-jadinya.

Lalu, apakah aku juga seperti itu di hadapan anak muridku? Tentu saja tidak. Aku masih percaya dengan kemampuan diri sendiri, selalu berpikir positif, bergaul dengan lingkungan positif, optimis, mengerjakan sesuatu dengan suka cita, dan selalu bersyukur.

Tapi rasa percaya diri itu tak akan tampak saat aku membaca novel Pahari karya Mahmud Jauhari Ali atau novel Galuh Hati karya Randu. Aku juga malu setelah membaca buku Inspiring Teacher karya Jamal T Suryanata. Apalagi status-status facebook yang mengatakan akan coming soon buku-buku terbaru karya anak banua. Malu, malu, malu rasanya.

Malu, karena aku tidak bisa seperti mereka. Sudah setua ini masih belum bisa menulis, walaupun sekedar di blog dimana aku sendiri yang menjadi pemimpin redaksinya.

Karena rasa malu itulah, kumulai menulis tulisan ini. Semoga menginspirasiku untuk terus berkarya.

(Catatan 18 April 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar