Bagaimana perasaan
Anda ketika punya teman yang sibuk dan banyak urusan? Seolah-olah hanya dia
yang punya kesibukan dan tak bisa ditinggalkan? Lalu, apa-apa yang seharusnya
dikerjakan sendiri, akhirnya dilimpahkan ke orang lain, dibungkus dengan
kata-kata “tolong”, sementara dirinya sendiri tak pernah bisa memberikan
“pertolongan” ke orang lain.
Jengkel. Pasti.
Sebagai manusia biasa, kita pasti punya perasaan seperti itu. Berusaha untuk
ikhlas, tapi tetap ada rasa tidak enak. Contohnya, pengerjaan Sasaran Kerja
Pegawai (SKP), yang notabene adalah target masing-masing pegawai. Artinya, itu
kontrak kerja yang harus dilakukan sendiri apa yang akan dilakukan seseorang
PNS selama satu tahun. Tapi, kenapa harus dilimpahkan ke orang lain?
Mungkin tidak bisa
menggunakan laptop atau computer. Itu alasan klasik, karena tidak pernah mau
belajar. Karena kesibukan di luar lebih penting. Itulah manusia. Pada saat
sertifikasi tidak atau lambat dicairkan, pasti akan sibuk “berkicau”. Tapi pada
saat sering terlambat datang ke sekolah, tidak masuk, minta izin, cuek dengan
segala peraturan yang mengikat sertifikasi, tidak pernah peduli. Menyatakan
diri sebagai seorang yang memiliki kompetensi professional, tapi nonsense,
kenyataannya tidak seperti itu.
Apakah aku juga
seorang yang mempunyai sudah mempunyai sertifikat professional, lantas sudah
menjadi seorang yang professional? Tidak. Aku juga masih jauh dari
professional, dan masih harus banyak belajar. Tapi setidaknya, berusaha untuk terus
belajar, meluangkan waktu untuk mempertanggungjawabkan sertifikat professional
yang sudah dimiliki, dengan memenuhi segala hak dan kewajiban yang sudah
menjadi tanggung jawab.
Sangat memahami Pa Alipir...tak di sana, tak di sini ternyata sama saja, bahkan sang pemegang kuasa juga berlaku serupa...
BalasHapusiya.... seakan sudah menjadi budaya.....
BalasHapus